Jenewa (ANTARA) - Semua hipotesis masih terbuka dalam penyelidikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang asal-usul COVID-19, kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pengarahan, Jumat (12/2).

Sebuah misi yang dipimpin WHO di China pada pekan ini menyampaikan bahwa mereka tidak lagi menyelidiki lebih jauh pertanyaan apakah virus corona baru itu lolos dari laboratorium, yang dianggap sangat tidak mungkin. Amerika Serikat telah mengatakan akan meninjau temuan dari misi WHO tersebut.

"Beberapa pertanyaan telah diajukan mengenai apakah beberapa hipotesis telah dibuang. Setelah berbicara dengan beberapa anggota tim, saya ingin memastikan bahwa semua hipotesis tetap terbuka dan memerlukan analisis dan studi lebih lanjut," kata Tedros.

"Beberapa dari pekerjaan penyelidikan itu mungkin berada di luar kendali dan ruang lingkup misi (WHO) ini. Kami selalu mengatakan bahwa misi ini tidak akan menemukan semua jawaban, tetapi telah menambahkan informasi penting yang membawa kita lebih dekat untuk memahami asal-usul virus penyebab COVID-19," ujar Dirjen WHO itu.

Misi penyelidikan WHO tersebut mengatakan hipotesis utamanya adalah bahwa virus corona baru berasal dari kelelawar, meskipun ada beberapa kemungkinan skenario bagaimana virus itu menular ke manusia, mungkin pertama dengan menginfeksi spesies hewan lain.


Pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang meninggalkan jabatannya bulan lalu, mengatakan pihaknya yakin virus corona baru itu mungkin telah keluar karena kebocoran dari laboratorium di kota Wuhan di China.

China membantah keras hal itu, dan mengatakan Institut Virologi Wuhan tidak mempelajari virus-virus terkait.

Sumber: Reuters
 

Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2024