PM : Irak jauhi perang
Rabu, 1 Januari 2020 10:37 WIB
Pejuang milisi Syiah Asaib Ahl al-Haq dari selatan Irak dan pasukan Peshmerga kurdi membawa senjata mereka saat mereka mengambil alih kendali Sulaiman Pek dari militan Negara Islam di Tikrit, Irak, Senin (1/9). (ANTARA FOTO/REUTERS/Youssef Bo)/file
Baghdad (ANTARA) - Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengatakan bahwa kebijakan pemerintah adalah menjaga Irak dari aliansi regional dan menjauhi perang.
Setiap ketegangan di Irak akan menjadikan negara itu menjadi medan perang untuk perang proksi antara Amerika Serikat dan Iran, yang juga akan menjerat sekutu regional dari kedua belah pihak.
Kelompok kuat Syiah Lebanon, Hizbullah, yang didukung oleh Iran, juga mengutuk serangan udara itu.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia mengucapkan selamat kepada Pompeo "atas operasi penting Amerika Serikat terhadap Iran di wilayah ini".
Rusia, yang mendukung pemerintah Presiden Bashar al-Assad dalam perang saudara Suriah, mengatakan serangan itu tidak dapat diterima dan kontraproduktif. Pemerintah Suriah juga mengutuk serangan itu.
Serangan Brutal
Pasukan Mobilisasi Irak mendukung pasukan keamanan Irak selama pertempuran mereka untuk merebut kembali sepertiga negara itu dari ISIS.
Mereka kemudian secara resmi diintegrasikan ke dalam struktur keamanan resmi Irak dan menggunakan pengaruh politik besar-besaran.
Selain itu, Aliansi Fatih Irak, sebuah blok politik yang mewakili milisi yang memegang jumlah kursi terbesar kedua di parlemen, mengutuk serangan udara.
Ulama Syiah terkemuka Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, juga mengutuk serangan itu dan mengecam serangan yang dituduhkan oleh milisi yang didukung Iran terhadap personel AS.
Dia mendesak pemerintah Irak untuk mencegah serangan-serangan semacam itu dan "memastikan Irak tidak menjadi ladang untuk menyelesaikan masalah-masalah regional dan internasional."
Setiap ketegangan di Irak akan menjadikan negara itu menjadi medan perang untuk perang proksi antara Amerika Serikat dan Iran, yang juga akan menjerat sekutu regional dari kedua belah pihak.
Kelompok kuat Syiah Lebanon, Hizbullah, yang didukung oleh Iran, juga mengutuk serangan udara itu.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia mengucapkan selamat kepada Pompeo "atas operasi penting Amerika Serikat terhadap Iran di wilayah ini".
Rusia, yang mendukung pemerintah Presiden Bashar al-Assad dalam perang saudara Suriah, mengatakan serangan itu tidak dapat diterima dan kontraproduktif. Pemerintah Suriah juga mengutuk serangan itu.
Serangan Brutal
Pasukan Mobilisasi Irak mendukung pasukan keamanan Irak selama pertempuran mereka untuk merebut kembali sepertiga negara itu dari ISIS.
Mereka kemudian secara resmi diintegrasikan ke dalam struktur keamanan resmi Irak dan menggunakan pengaruh politik besar-besaran.
Selain itu, Aliansi Fatih Irak, sebuah blok politik yang mewakili milisi yang memegang jumlah kursi terbesar kedua di parlemen, mengutuk serangan udara.
Ulama Syiah terkemuka Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, juga mengutuk serangan itu dan mengecam serangan yang dituduhkan oleh milisi yang didukung Iran terhadap personel AS.
Dia mendesak pemerintah Irak untuk mencegah serangan-serangan semacam itu dan "memastikan Irak tidak menjadi ladang untuk menyelesaikan masalah-masalah regional dan internasional."
Pewarta : Azis Kurmala
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ulama Syiah Irak siap kerja sama dengan milisi dukungan Iran usir pasukan AS
31 December 2019 12:57 WIB, 2019