Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta akan melakukan uji coba paket tur yang memasukkan kampung wisata sebagai salah satu tujuan untuk memperkenalkan dan mengembangkan kampung wisata di Yogyakarta.

“Kami bersama Asita (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) akan mencoba mengenalkan paket wisata yang memasukkan kampung wisata sebagai salah satu tujuan yang dikunjungi,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Yetty Martanti di Yogyakarta, Minggu.
Baca juga: Kotabaru ditawarkan wisata libur asyik akhir akhir tahun di Yogyakarta

Menurut Yetty, upaya untuk memperkenalkan dan mengembangkan kampung wisata di Kota Yogyakarta harus dilakukan dengan cara kolaborasi sehingga wisatawan pun mengenal bahwa ada wisata yang menawarkan minat khusus yang bisa dinikmati di Yogyakarta.

Dalam uji coba tersebut akan ada lima kampung wisata yang dimasukkan dalam paket wisata di antaranya kampung wisata yang berada di Kotagede dan di sekitar Keraton Yogyakarta.
 

Wisatawan, lanjut dia, bisa menikmati suasana unik yang ditawarkan setiap kampung wisata dengan berbagai cara, mulai dari sekadar berjalan kaki menikmati kampung atau bisa bersepeda menjelajah kampung dan melakukan interaksi dengan penduduk.

“Wisata yang ditawarkan kampung wisata adalah ‘living culture’ yaitu bagaimana kehidupan bermasyarakat atau kehidupan sosial budaya yang terbangun di kampung tersebut,” katanya.

Yetty menyebut, kehidupan sosial budaya masyarakat menjadi kekuatan wisata di Kota Yogyakarta yang tidak akan ditemukan di tempat lain. “Banyak atraksi wisata yang sebenarnya tidak perlu diada-adakan. Kehidupan sosial budaya masyarakat juga bisa menjadi atraksi yang menarik,” katanya.

Meskipun demikian, lanjut dia, wisatawan yang berkunjung juga harus bisa merasakan interaksi dengan warga untuk memperoleh pengalaman yang berharga, di antaranya melihat atau justru ikut melakukan kegiatan yang biasa dilakukan warga, misalnya membuat batik jumputan.

“Selain memperoleh pengalaman membuat batik sendiri, wisatawan pun akan memahami mengapa harga batik atau barang kerajinan lain cukup mahal,” katanya.
Baca juga: Pemkot Yogyakarta tak ingin ada lagi keluhan wisatawan libur akhir tahun

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Maryustion Tonang mengatakan, salah satu kendala dalam pengembangan kampung wisata terletak pada aspek manajemen dan lembaga pengelolanya.

“Ini yang perlu ditangani. Beda dengan desa wisata di kabupaten lain yang mampu berkembang karena masyarakatnya memang fokus sepenuhnya di manajemen desa wisata,” katanya.

Di Kota Yogyakarta terdapat 17 kampung wisata dan sejak tahun lalu Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta melakukan akreditasi terhadap seluruh kampung wisata sehingga bisa memberikan pembinaan yang tepat untuk pengembangan kampung wisata.


Pewarta : Eka Arifa Rusqiyati
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2024