Orang tak menonton Joker pun ikut terimbas depresi
Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling (BK) Universitas Veteran Bantara (Univet) Sukoharjo dengan memakai riasan tokoh Joker melakukan aksi bertema Stop Depresi di Simpang Lima Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (10/10/2019). Aksi tersebut dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2019. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/pras.
Psikiater RS Cipto Mangunkusumo Dr Sylvia D Elvira Sp.KJ(K) mengatakan di Jakarta, Jumat, pasiennya yang berusia remaja dan sudah dalam kondisi yang stabil dan baik kembali mengalami gangguan setelah terpapar banyaknya perbincangan soal film Joker di media sosial.
"Ada dua orang pasien saya bilang, sudah seminggu ini nggak enak banget, dok, nggak nyaman banget," kata Sylvia menceritakan keluhan pasiennya. Padahal pasiennya tersebut tidak menonton film Joker, melainkan hanya terpapar cuplikan-cuplikan di media sosial.
Dari paparan terkait film Joker itulah yang menyebabkan depresi kembali muncul dan mengganggu kejiwaan orang yang sudah pernah mengalaminya sebelumnya.
"Dia memang sudah ada konflik dengan ibu bapaknya, banyak sekali itu iklan dan benar-benar mengganggu banget. Tadinya sudah bagus, sudah menerima dirinya apa adanya yang tadinya kepribadian ambang, kembali lagi" kata Sylvia.
Di media sosial banyak pula cerita-cerita orang yang mengaku merasa tak nyaman usai menonton film Joker. Dokter kejiwaan dari FKUI dr Heriani Sp.KJ(K) pun tak menampik bahwa film Joker memang mampu membangkitkan kembali rasa depresi yang pernah dialami seseorang.
Heriani bahkan menyebut film Joker hanya untuk orang dewasa yang kuat secara mental dan tak pernah mengalami perundungan di masa lalu seperti yang diceritakan dalam film Joker karya Todd Philips.
Dia menyebut film Joker bisa memicu ingatan orang-orang yang pernah mengalami perundungan di masa lalu kembali muncul pada saat menontonnya. "Itu untuk orang dewasa yang kuat secara mental, kalau dia pernah di-abuse waktu kecil maka bisa terbangkitkan," kata Heriani.
Film Joker yang sebenarnya merupakan salah satu karakter jahat dalam dunia film pahlawan super DC Comics mengangkat tentang kisah seseorang yang mengalami depresi berat dan berubah menjadi jahat. Film tersebut menggambarkan kisah hidup Arthur Fleck yang diperankan oleh Joaquin Phoenix dan prosesnya menjadi orang jahat.
Dalam film Joker sangat kental terkait dengan dunia kesehatan jiwa bahwa orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa memang bisa melukai dan membahayakan orang lain.*
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor : Agus Wira Sukarta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Program FKUI kampus pertama peraih akreditasi internasional dari IAAHEH-INT
21 December 2025 10:11 WIB
Dokter: Perokok aktif di atas 40 tahun perlu jalani skrining kanker paru
04 December 2024 10:30 WIB, 2024
Guru Besar FKUI ingatkan perokok berisiko lebih besar kena tuberkulosis
03 December 2022 12:47 WIB, 2022
Dua orang dosen FKUI meraih penghargaan ASN Inspiratif dan future Leader 2021
22 December 2021 10:44 WIB, 2021
Terpopuler - Musik dan Film
Lihat Juga
Paul McCartney ungkap rencana pensiun usai The Beatles bubar pada 1970
23 March 2023 22:25 WIB, 2023
Indonesia raih empat penghargaan utama dari Festival Film Pariwisata Jepang
17 March 2023 22:10 WIB, 2023
Konser 30 tahun Dewa 19 bisa disaksikan ulang secara streaming lewat Video Legend TV
10 March 2023 11:31 WIB, 2023
Wajah "Goodfather of Broken Heart" Didi Kempot tampil di Google Doodle
26 February 2023 10:07 WIB, 2023
Debut film "Ant-Man 3" diharapkan bisa tembus Rp3,8 triliun di box office secara global
15 February 2023 9:37 WIB, 2023