Sarapan penting untuk tumbuh kembang anak
Jumat, 12 April 2019 6:20 WIB
Menu sarapan berprotein tinggi (HO)
Semarang (ANTARA) - Pentingnya sarapan bagi tumbuh kembang anak, sebab anak yang tidak sarapan bisa kehilangan sepertiga dari pertumbuhannya, kata Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N Rosalin.
"Siklus hidup anak itu harus makan tiga kali sehari; yaitu pagi, siang, dan malam; dengan asupan gizi yang cukup," kata Lenny yang dihubungi di Semarang, Kamis.
Lenny mengatakan bila anak tidak sarapan, hanya makan siang dan sore, maka dia akan kehilangan sepertiga dari pertumbuhannya. Bisa jadi anak tersebut tidak tumbuh 100 persen, tetapi hanya 75 persen.
Menurut Lenny, ukuran pertumbuhan anak adalah tinggi badan dan berat badan. Anak yang tidak dibiasakan sarapan, kemungkinan tinggi badan atau berat badannya di bawah anak-anak yang biasa sarapan.
"Itu akan menyebabkan isu kekurangan gizi, gizi buruk, bahkan kekerdilan atau 'stunting'," tuturnya.
Bila anak memang tidak sempat untuk sarapan di rumah, Lenny mengatakan bisa dibawakan bekal untuk dimakan di sekolah sebelum pelajaran dimulai.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2017 pernah melakukan program yang merupakan kampanye global, yang salah satunya adalah sarapan dengan membawa bekal ke sekolah.
"Ternyata makan bekal bersama membawa dampak positif bagi anak. Anak yang sebelumnya tidak mau makan sayur, jadi mau makan sayur karena melihat temannya makan sayur," katanya.
Kegiatan itu diikuti oleh banyak sekolah. Karena dampak positifnya, beberapa sekolah akhirnya melanjutkan beberapa program itu menjadi kebiasaan. *
"Siklus hidup anak itu harus makan tiga kali sehari; yaitu pagi, siang, dan malam; dengan asupan gizi yang cukup," kata Lenny yang dihubungi di Semarang, Kamis.
Lenny mengatakan bila anak tidak sarapan, hanya makan siang dan sore, maka dia akan kehilangan sepertiga dari pertumbuhannya. Bisa jadi anak tersebut tidak tumbuh 100 persen, tetapi hanya 75 persen.
Menurut Lenny, ukuran pertumbuhan anak adalah tinggi badan dan berat badan. Anak yang tidak dibiasakan sarapan, kemungkinan tinggi badan atau berat badannya di bawah anak-anak yang biasa sarapan.
"Itu akan menyebabkan isu kekurangan gizi, gizi buruk, bahkan kekerdilan atau 'stunting'," tuturnya.
Bila anak memang tidak sempat untuk sarapan di rumah, Lenny mengatakan bisa dibawakan bekal untuk dimakan di sekolah sebelum pelajaran dimulai.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2017 pernah melakukan program yang merupakan kampanye global, yang salah satunya adalah sarapan dengan membawa bekal ke sekolah.
"Ternyata makan bekal bersama membawa dampak positif bagi anak. Anak yang sebelumnya tidak mau makan sayur, jadi mau makan sayur karena melihat temannya makan sayur," katanya.
Kegiatan itu diikuti oleh banyak sekolah. Karena dampak positifnya, beberapa sekolah akhirnya melanjutkan beberapa program itu menjadi kebiasaan. *
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Yudisium ke-38 FEB IIB Darmajaya: Bekal integritas dan profesionalisme para lulusan
28 November 2024 13:30 WIB, 2024
Timnas dayung punya bekal untuk capai target di SEA Games Hanoi Vietnam
12 April 2022 4:27 WIB, 2022
Tercepat di Mandalika, Pol Espargaro beri Honda bekal positif awali musim
13 February 2022 16:41 WIB, 2022
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Gubernur DKI Jakarta sampaikan duka cita pada pengendara mobil yang tewas saat macet
23 January 2026 11:36 WIB