Jakarta (ANTARA Lampung) - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo menghimbau perempuan Indonesia memperhatikan keselamatan pangan dan tak hanya memilih beras karena harga yang murah.

"Banyak perempuan yang biasanya memilih beras karena pertimbangan harganya yang murah, bukan keamanan panggannya," ujar Giwo usai penutupan Kowani Fair di Jakarta, Minggu (24/5).

Pernyatan Giwo tersebut berkaitan dengan merebaknya peredaran beras yang dicampur plastik di Tanah Air.

Tak hanya terjadi di Bekasi, beras sintesis itu juga beredar di sebagian wilayah Kalimantan, Sumatera dan Jawa.

"Dalam memilih makanan harus menerapkan prinsip ASUH, yakni Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Jangan asal murah," imbuh Giwo.

Pihaknya juga kerap melakukan sosialisasi kepada anggota Kowani yang berjumlah 30 juta jiwa tersebut.

"Kami meminta pada pemerintah untuk menindak tegas pengedar beras sintesis tersebut, karena beras merupakan kebutuhan pokok yang dibutuhkan seluruh masyarakat Indonesia," pinta dia.

Ahli penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Ari F Syam mengatakan beras yang mengandung plastik dapat menyebabkan iritasi pada pencernaan serta kemandulan pada pria.

"Komponen plastik bukan sesuatu yang bisa dikonsumsi. Sistem pencernaan kita tidak akan mencerna makanan yang mengandung plastik dengan sempurna," ujar Ari.

Beras plastik dapat menyebabkan gangguan langsung pada pencernaan. Makanan yang mengandung plastik akan butuh lama berada di dalam lambung.

Hal tersebut akan menimbulkan rasa begah, penuh dan cepat kenyang.

"Gangguan yang terjadi selanjutnya dapat menyebabkan mual dan muntah," tambah dia.

Selain itu, komponen dari plastik dapat mengiritasi pencernaan. Proses pembuangan dari makanan yang mengandung plastik bisa membuat diare atau malah susah buang air besar.

Hasil penelitian Sucofindo ternyata ada unsur phtalat dalam komponen beras palsu tersebut.

"Phtalat juga dapat masuk ke sistem reproduksi kita, dan menyebabkan kemandulan terutama pada pria," tukas Ari.
 

Pewarta : Indriani
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2024