Rabu, 27 September 2017

Jika alami gangguan berbicara, orang tua harus rajin ajak anak berkomunikasi

id RS Imanuel, dokter, rs
Jika alami gangguan berbicara, orang tua harus rajin ajak anak berkomunikasi
Peserta seminar kesehatan berfoto bersama seusai acara. (ANTARA Lampung/Humas RS Imanuel)
Bandarlampung (Antara Lampung)- Dokter ahli dari RS Imanuel Way Halim Bandarlampung, dr Arya Purba SpA menyarankan kepada para orang tua untuk rajin berbicara dan berkomunikasi dengan anaknya, termasuk membacakan cerita yang merupakan cara terbaik meningkatkan kosakata anak.

"Untuk menegakkan diagnosis penyebab keterlambatan bicara, perlu pemeriksaan multidisiplin oleh dokter anak, dokter THT, psikolog atau psikiater anak dan rehabilitasi medik," kata dia dalam seminar kesehatan bagi orang awam tentang gangguan pendengaran dan bicara pada anak, di RSIM Bandarlampung, Sabtu.

Sedang tata laksana mengatasi keterlambatan berbicara tergantung pada penyebabnya, dan tentu  melibatkan kerja sama antara dokter anak dan dokter spesialis terkait, terapis wicara dan orang tua.

Sementara itu, hasil kajian di Amerika Serikat menunjukkan perkiraan keseluruhan terjadinya gangguan komunikasi adalah sekitar 5 persen anak usia sekolah, yang meliputi gangguan suara sebanyak 3 persen dan gagap 1 persen. Insidens anak usia sekolah dasar yang mengalami gangguan artikulasi adalah sekitar 2-3 persen, perkiraan terjadinya gangguan pendengaran juga bervariasi, namun berkisar 5 persen dari usia anak sekolah.

Penelitian hal serupa secara komprehensif di Indonesia belum ada sejauh ini. (baca :Deteksi dini pendengaran gunakan OAE ? Datang saja ke RS Imanuel)

Dokter Arya menyebutkan sejumlah faktor lingkungan yang berkaitan dengan perkembangan bicara anak, seperti anak terasing dari masyarakat, stimulasi lingkungan kurang seperti orang tua kurang berkomunikasi dengananak, orang tua terlalu melindungi anak tanpa mengajak anak berkomunikasi, bilingualisme, orang tua memaksana anak berbicara lebih tinggi dari taraf kemampuan anak, dan ucapan anak sering dikoreksi.
 
ANTARA LAMPUNG

Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0097 seconds memory usage: 0.46 MB