Selasa, 26 September 2017

Rajin Cuci Tangan Bisa Cegah Kanker Serviks

id cuci tangan cegah kanker serviks, venita, kabid yki dki jakarta
Rajin Cuci Tangan Bisa Cegah Kanker Serviks
Mencuci tangan secara rutin dapat cegah kanker serviks (Foto : Net)
...Perlu mewaspadai toilet umum, kita harus lebih waspada jaga kebersihannya itu, kemudian rajin cuci tangan...
Jakarta (ANTARA Lampung) - Kepala Bidang Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia (YKI) DKI Jakarta Venita mengungkapkan rajin mencuci tangan dapat mencegah kanker serviks karena human papilloma virus (HPV) penyebab kanker itu dapat berpindah melalui sentuhan.

"Perlu mewaspadai toilet umum, kita harus lebih waspada jaga kebersihannya itu, kemudian rajin cuci tangan. Langkah-langkah kebersihan umum sebelum makan, sebelum dan sesudah buang air kecil juga," katanya di Jakarta, Senin (14/8).

Berdasarkan penelitian, kata dia, penyebaran virus kanker serviks melalui kontak sentuhan kurang dari 10 persen. Akan tetapi, memperhatikan kebersihan merupakan hal penting untuk pencegahan.

Selain rajin cuci tangan, pencegahan yang dapat dilakukan adalah vaksinasi serta deteksi dini setidaknya tiga tahun sekali.

"Minimal tiga tahun sekali, kalau bisa lebih sering ya tidak apa-apa. Kelamaan dikhawatirkan lupa, tetapi tiga tahun sekali minimal. Papsmear gratis BPJS, jadi tidak ada alasan untuk tidak periksa," ucap Vernita.

Ia juga menyarakankan diet seimbang, banyak mengonsumsi makanan mengandung antioksidan, dan rutin berolahraga guna mencegah terjangkit kanker serviks.

Kanker serviks merupakan satu-satunya kanker yang dapat dicegah melalui vaksinasi HPV sebagai pencegahan primer dan skrining sejak dini sebagai pencegahan sekunder.

Namun, menurut data yang dihimpun dari RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, ditemukan 70 persen penderita kanker serviks datang dengan stadium lanjut (stadium >3b), dengan kelompok umur paling banyak didapatkan rentang usia 35 s.d. 55 tahun sehingga memengaruhi angka harapan hidup pasien tersebut.

Data penderita kanker serviks di RS Dr Cipto Mangunkusumo (2010 s.d. 2014) dari 105 pasien, hanya 14 persen pasien yg mampu bertahan hidup hingga 1 tahun. Bahkan, dalam 5 tahun, angka harapan hidup (survival rate) adalah 0 persen. (ANTARA)

Editor: Edy Supriyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0079 seconds memory usage: 0.46 MB