Kamis, 17 Agustus 2017

Perang Afghanistan terus berlanjut, Trump frustasi

id Perang Afghanistan dan Taliban, Pakistan, AS
Perang Afghanistan terus berlanjut, Trump frustasi
Prajurit AS melakukan pencarian gerilyawan dan timbunan senjatanya di pegunungan wilayah Provinsi Andar Afghanistan. (File/US Army (talkmedianews.com))
Washington (Antara/Reuters) - Keraguan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap perang di Afghanistan membuat negara tersebut harus menunda penerapan strategi baru di kawasan Asia Selatan.
         
Skeptisisme itu bahkan membuat Trump mempertimbangkan untuk memecat komandan militer Amerika Serikat di kawasan yang sama, kata sejumlah sumber Gedung Putih pada Rabu.
         
Saat menggelar rapat di ruang darurat Gedung Putih, Trump meminta semua anggota kabinet keamanan untuk memberikan informasi lebih mengenai situasi terbaru di negara di mana Amerika Serikat telah menghabiskan 16 tahun berperang melawan kelompok bersenjata Taliban tanpa ada tanda-tanda kemenangan.
         
Rapat tersebut memanas saat Trump mengatakan bahwa Menteri Pertahanan James Mattis dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Joseph Dunford untuk memecat Jenderal John Nicholsin, seorang komandan pasukan Amerika Serikat di Afghanistan karena tidak berhasil memenangi peperangan.
         
"Kita belum juga mencapai kemenangan," kata Trump kepada dua orang tersebut, sebagaimana dikutip dari sejumlah sumber yang tidak ingin identitasnya terungkap.
         
Saat rapat itu selesai, pejabat setara menteri koordinator politik, Steve Bannon, terlibat adu mulut dengan pejabat setara menteri koordinator keamanan H.R. McMaster terkait arah kebijakan Amerika Serikat.
         
Beberapa pejabat meninggalkan rapat itu dalam kondisi terkejut oleh keluhan presiden bahwa militer telah membiarkan Amerika Serikat kalah dalam peperangan.
         
Mattis, McMaster, dan beberapa pejabat tinggi lainnya kini berusaha menjawab keraguan Trump dalam cara yang bisa membuat sang presiden pemarah untuk menyetujui strategi baru di Asia Selatan, kata sumber-sumber tersebut.
          
Trump sudah sejak lama skeptis terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam peperangan di negara asing dan menyatakan tidak tertarik untuk mengirim pasukan militer tanpa rencana spesifik mengenai apa peran mereka dan untuk berapa lama.
         
Sejumlah pejabat mengatakan bahwa Trump meminta agar Afghanistan juga turut menanggung biaya satu trilyun dolar AS, dalam bentuk kekayaan tambang, sebagai bayaran atas bantuan keamanan bagi pemerintah Afghanistan.
 
ANTARA/REUTERS

Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0121 seconds memory usage: 0.35 MB