Kamis, 24 Agustus 2017

Pesan kedamaian dalam perayaan Natal

id Natal, Lampung
Pesan kedamaian dalam perayaan Natal
Ilustrasi/pohon natal
Jakarta (Antara Lampung) - Salah satu kalimat yang kerap disampaikan dalam perayaan hari Natal adalah damai di hati dan damai di bumi untuk semua, yang juga selaras dengan suasana ritual menjelang akhir tahun 2016 ini.

Pesan perdamaian juga dinyatakan oleh berbagai ibadah Natal, seperti Uskup Agung Jakarta MGR Ignatius Suharyo yang memimpin Perayaan Ekaristi dalam Misa Pontifikal Natal di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu ini.

Uskup Agung Jakarta salah satunya menyisipkan ajakan untuk semakin mengamalkan Pancasila terutama sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dalam berbagai hal pada tahun mendatang.


Ia juga menyampaikan tentang perihal kemuliaan Allah yang menjadi semakin kabur saat ini di Indonesia karena persoalan yang berkaitan dengan keragaman suku, ras, dan agama.


Persoalan tersebut, lanjutnya, disebabkan karena masih tingginya angka kemiskinan, semakin tingginya angka pengguna narkoba, korupsi yang semakin liar serta kondisi demokrasi yang belum dewasa.


Untuk itu, ujar dia, bagi umat Kristiani selain merayakan Natal serta mengharapkan damai dan suka cita, tentu juga akan memuat amanat untuk lebih terlibat seluas-luasnya secara konkrit menyelesaikan persoalan aktual dalam bangsa ini.


Konteks positif yang terjadi dalam bangsa ini, ia mengatakan banyak hal menjadi semakin baik, contoh terkait pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik, termasuk pembangunan di perbatasan dan Papua.


Sementara di Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Paulus, Pendeta Jeffrey Sompotan juga menyerukan pesan perdamaian untuk Indonesia dalam perayaan Natal yang dihadiri oleh ribuan umat Kristiani.


"Kami berdoa untuk seluruh masyarakat Indonesia, apapun agamanya, agar hidup damai demi terjaganya persatuan negara dan kelancaran pembangunan," kata Pendeta Jeffrey Sompotan yang juga merupakan ketua majelis jemaat GPIB Paulus dalam doa Natal.


Jeffrey meminta umat Kristiani untuk meyakini penyertaan Tuhan dalam masa-masa yang sulit sehingga semua umat memiliki pegangan hidup.


Tidak hanya di Jakarta, tetapi pesan yang relatif serupa juga didengungkan di berbagai daerah, seperti di Gereja Toraja Jemaat Lahai Roi Tello Baru (JLTB) Makassar, Sulawesi Selatan, yang menyerukan pesan perdamaian kepada seluruh jemaat yang hadir.


Keselamatan sebagai anugrah


Pendeta Luther Lupi Barumbun dalam khotbahnya di Makassar, Minggu, mengatakan, agar jemaat mengalami dan menghayati keselamatan sebagai anugerah Allah semata perlu menanamkan sifat-sifat Yesus Kristus dalam setiap jemaat.


Sementara di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Pastur Gereja Romo Yohanes Handriyanto dalam misa juga menekankan sikap toleransi antar pemeluk agama di daerah itu.


"Natal adalah perayaan cinta kasih antarsesama. Cinta saling memberi dan mengasihi tanpa memandang agama, siapa dan darimana," kata Pastur Gereja, Romo Yohanes Handriyanto yang kerap dipanggil sebagai Romo Hans.


Ia mengatakan, Natal adalah sebuah paradoks ketika Allah datang menjadi manusia dan lahir sebagai Kristus di Kota Betlehem dan orang-orang di kota itu tidak menyadari kelahiran Kristus yang menjadi peristiwa sekali seumur hidup mereka.


Terkait hal itu, ujar dia, perayaan Natal selama ini juga dinilai paradoks dengan semakin marak praktek intoleransi yang dilakukan sekelompok orang belakangan ini.


Sedangkan "Seruan Moral Akhir Tahun" oleh Pemuda Kristiani (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia/GAMKI, Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia/PMKRI, dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesai/GMKI) juga menyebutkan hal tersebut.


Seruan itu menyatakan, menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat dan beragama lintas iman merupakan salah satu kunci utama dalam mencegah berkembangnya paham-paham fundamentalis-radikal-ekstrim di tengah-tengah masyarakat Indonesia.


Menurut Pemuda Kristiani itu, hal-hal sekecil apapun yang berpotensi mengikis sikap saling menghormati antarsesama insan dan atau kelompok, berpeluang besar menjadi pintu masuk ancaman yang memecah belah NKRI.


Dalam konsep masyarakat majemuk, saling menghormati adalah sikap yang harus dijunjung tinggi oleh semua pihak, baik oleh para pemimpin agama maupun oleh seluruh umat pada setiap sikap dan perilakunya.


Untuk itu, mereka juga menyerukan agar kepada kelompok umat masing-masing, lembaga keagamaan dan para pemimpin agama memberikan seruan yang bernuansa mempromosikan sikap saling menghormati antar umat beragama.


Selain itu, diimbau pula agar segenap elemen bangsa, termasuk umat Kristiani, bisa bahu membahu menjaga dan mempromosikan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama dengan mengedepankan kasih dan rasa keadilan.

Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga

Generated in 0.0232 seconds memory usage: 0.37 MB