Kamis, 17 Agustus 2017

Pertahankan Pulau Pasaran sebagai sentra ikan teri

id ikan teri, ikan, pulau pasaran
Pertahankan Pulau Pasaran sebagai sentra ikan teri
Nelayan Lampung sedang menjemur ikan teri (Foto ANTARA Lampung/Muklasin)
Bandarlampung (Antara Lampung)- Produksi ikan teri di Pulau Pasaran,Lampung  pada 2016 sebenarnya lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya, namun aktivitas pembuatan ikan  asin di pulau kecil itu bisa tetap berlangsung setiap bulannya meski volumenya sedikit.
           
Sejumlah perajin dan nelayan di pulau berpenduduk sekitar 240 KK  itu menyebutkan salah satu penyebab produksi ikan asin bisa berlangsung karena mulai berkurangnya perahu cantrang dan payang yang beroperasi di perairan Teluk Lampung sehingga pasokan teri segar tetap ada.
           
Pelarangan penggunaan alat tangkap cantrang per 31 Desember 2016 ini diyakini akan mendongkrak volume produksi ikan teri asin, meski faktor alam sebenarnya yang paling menentukannya.
           
Sejak Juni hingga Desember 2016, produksi ikan teri asin Pulau Pasaran cenderung turun, sehingga harga komoditas itu naik. Salah satu agen ikan teri asin Pulau Pasaran, Waskarah, menyebutkan penurunan produksi ikan teri bukan hanya di Lampung saja, tetapi juga di daerah lainnya di Indonesia, termasuk Sulawesi dan Jawa.
           
Karena terbatasnya stok ikan teri asin, maka harganya pun melambung. Jika harga ikan teri asin sebelumnya berkisar Rp60.000- Rp65.000/kg, maka harganya pada pertengahan Desember 2016 sudah mencapai Rp90.000- Rp100.000/kg.
        
Harga ikan asin itu tentu akan makin mahal lagi setelah dibawa keluar Pulau Pasaran, seperti ke Medan dan Jawa.
           
Faktor alam sebenarnya penyebab penurunan produksi ikan teri asin, meski faktor lainnya juga berperan, seperti pencemaran dan ulah nelayan yang menangkap ikan menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan.
           
Pulau Pasaran awalnya dipenuhi pohon kelapa di tahun 1960-an dan penduduknya pun hanya beberapa keluarga, dan luasnya hanya sekitar dua hektare. Namun kini pulau seluas sekitar delapan ha dan disesaki rumah-rumah pengrajin ikan asin, sementara pantai pesisirnya dipenuhi kapal-kapal nelayan dan keramba.
          
Aktivitas penduduk Pulau Pasaran setiap harinya selalu berkaitan dengan produksi ikan asin, kecuali jika berhenti berproduksi maka mereka bekerja serabutan, seperti buruh dan awak angkutan umum.
          
Dalam sehari, para pengrajin mampu memproduksi ikan teri asin berkisar 20-30 ton yang umumnya dipasarkan ke Jabotabek, Bandung, dan daerah lainnya di Sumatera, seperti Medan, Sumut. Jika produksi anjlok, Pulau Pasaran hanya mampu menghasilkan sekitar satu-dua ton ikan teri dalam sehari.
          
Peminat ikan teri Pulau Pasaran cenderung makin banyak meski pasar dalam negeri juga kerap dibanjiri dengan teri impor asal Thailand dan Malaysia.
        
Ikan teri tetap menjadi primadona bagi nelayan dan pengrajin karena harganya relatif cukup mahal sehingga penduduk Pulau Pasaran makin serius menggeluti usaha produksi ikan asin tersebut.         
     
Untuk menjaga mutunya, para perajin saling mengawasi agar tidak ada yang menggunakan pengawet, seperti formalin, karena mereka sekitar 10 tahun sudah merasakan dampak penggunaan bahan berbahaya itu, yakni produk ikan teri mereka ditolak di mana-mana. Kejadian itu menjadi pembelajaran bagi para pengrajin sehingga menjauhi penggunaan bahan berbahaya itu dalam proses produksi ikan teri asin mereka.
          
Kini, ikan teri asin Pulau Pasaran saat dikonsumsi umumnya berasa gurih, dan renyah atau tidak alot. Namun, jika ikan teri asin dikonsumsi terasa alot apakah disebabkan penggunaan pengawet?

Menurut pengrajin ikan asin Warjanah, jika pembuatan ikan asin kurang garam atau penjemurannya terlalu kering, ikan akan terasa alot saat dimakan.

            
                                                                                Dukungan pemerintah

     
Para perajin dan nelayan menyebutkan pemerintah pusat dan daerah sebenarnya telah memberikan banyak dukungan kepada mereka agar Pulau Pasaran bisa tetap bertahan sebagai sentra penghasil ikan asin.
          
Meski demikian, mereka juga mengingatkan bahwa produksi ikan teri asin tergantung pada pasokan bahan bakunya, yakni ikan teri segar yang ditangkap di bagan-bagan di perairan Teluk Lampung, mulai dari kawasan Ketapang hingga Legundi dan perairan Gunung Anak Krakatau.
          
Pelarangan penggunaan cantrang dinilai sebagai salah satu bentuk dukungan untuk keberlangsungan produk ikan asin, meski kebijakan itu juga berdampak besar terhadap usara keramba ikan kakap, bawal dan kerapu yang juga bertaburan di Teluk Lampung.
          
Menurut Waskarah,  pelarangan cantrang akan menguntungkan secara jangka panjang, termasuk bagi usaha keramba ikan, karena kondisi habitat ikan menjadi lebih baik.
          
Sehubungan itu, pemerintah diharapkan konsisten memberlakukan larangan penggunaan cantrang mulai 31 Desember 2016, karena manfaatnya sudah dirasakan para perajin ikan asin, yakni mereka bisa berproduksi setiap bulan meski volumenya sedikit.
          
Dukungan lain yang dirasakan para nelayan dan perajin adalah penggunaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dipinjam dari perbankan, untuk mengembangkan usaha mereka.
         
Waskarah yang memiliki puluhan karyawan itu menyebutkan ia termasuk yang meminjam KUR untuk mengembangkan usahanya. Dalam kondisi cuaca normal, ia dalam sebulan bisa memasok 20-30 ton ikan teri asin ke Jakarta.
         
Meski sepanjang tahun 2016 dia hanya mampu memasok ikan teri asin sekitar 100 ton atau turun dibandingkan tahun sebelumnya, ia menyebutkan dana KUR itu berperan dalam pengembangan usahanya. Apalagi proses peminjaman dana KUR itu tidak terlalu rumit, bunganya lebih rendah dibandingkan bunga pinjaman lainnya.
         
Perajin ikan teri lainnya, Sarnoto, juga menyebutkan ia telah menggunakan dana KUR untuk pengembangan usahanya, meski harus menggunakan agunan.
         
Ia menyebutkan dana KUR sangat menolong para perajin dalam mengembangkan usaha pembuatan ikan asin, karena butuh modal yang cukup besar untuk bisa bertahan menekuni pembuatan ikan asin. Dalam sehari  dibutuhkan biaya berkisar Rp10 juta - Rp20 juta per kapal untuk sekali melaut, yakni untuk biaya bahan bakar, gaji awak kapal, dan biaya membeli ikan segar.
         
Dukungan lainnya yang dirasakan perajin adalah akses internet yang sudah menjangkau Pulau Pasaran. Dengan demikian, mereka sudah mulai belajar industri perikanan, seperti pemasaran online.
         
Sehubungan itu, peran semua pihak, terutama perajin dan pemerintah daerah, diperlukan untuk mempertahankan keberlangsungan Pulau Pasaran sebagai sentra produksi ikan asin di Provinsi Lampung (ant). 

Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga

Generated in 0.0115 seconds memory usage: 0.38 MB