Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang raya itu di berbagai kesempatan berjanji akan menyumbangkan seluruh gajinya sebagai wali kota untuk kaum dhuafa,"
Berita Terkait
Malang (Antara Lampung) - Hiruk pikuk perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Malang, Jawa Timur, telah usai, dan proses hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei juga telah diumumkan.

Meski hasilnya berbeda-beda, namun survei itu menempatkan pasangan calon dengan nomor urut 6, yakni Moch Anton-Sutiaji (Aji) yang diusung PKB dan Partai Gerindra tersebut sebagai pemenang dalam pesta demokrasi lima tahunan di kota dingin itu.

Kepopuleran, kepintaran, pengalaman dalam berbagai bidang, program yang bagus, kematangan dalam berpolitik, bahkan seorang pejabat kini (incumbent) pun bukan menjadi satu jaminan akan mampu memenangan pertarungan, tapi strategi dan finansial yang kuat diduga menjadi andil terbesar dalam meraup suara rakyat.

Moch Anton yang berlatar belakang seorang pengusaha dan berangkat menjadi Calon Wali Kota Malang berpasangan dengan Sutiaji karena dorongan para kiai itu mampu mematahkan program-program calon yang lebih populer, berkuasa dan lebih pintar secara akademik.

"Saya maju menjadi calon wali kota (cawali) ini karena didorong oleh para kiai. Semula saya memang ragu untuk maju, karena saya tidak memiliki latar belakang politik, tidak punya pengalaman, bahkan tidak tahu soal pemerintahan, niat saya hanya satu, ingin memperbaiki kota ini saja, sebab kalau materi saya sudah berlimpah untuk menghidupi anak dan istri saya," kata Anton, menegaskan.

Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang raya itu di berbagai kesempatan berjanji akan menyumbangkan seluruh gajinya sebagai wali kota untuk kaum dhuafa.

Kemenangan pasangan Moch Anton-Sutiaji itu cukup "dramatis", karena selain dengan perolehan suara cukup tinggi, 48,15 persen (berdasarkan hasil hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia atau LSI), juga mengalahkan pasangan istri Wali Kota Malang Peni Suparto, yakni Heri Puji Utami-Sofyan Edi Jarwoko (Dadi) yang hanya menempati urutan ketiga dengan perolehan suara hanya 18,4 persen.

Sementara posisi kedua ditempati pasangan yang diusung PDIP Sri Rahayu-Priyatmoko Oetomo (SR-MK) yang meraup suara 21,61 persen.

"Dalam sepanjang sejarah pilkada di berbagai daerah, perolehan suara tidak seperti yang diraih pasangan Aji, karena seluruh kelurahan, bahkan kantong-kantong suara partai lain, termasuk PDIP juga 'disikat' habis dan cara mencoblosnya pun sama (seragam) persis di nomornya," tegas Kertua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Malang Eddy Rumpoko.

Menurut Eddy, setiap partai pasti memiliki basis atau kantong suara, seperti Partai Golkar punya basis massa di daerah A, PDIP di lokasi B, Partai Demokrat di lokasi C dan seterusnya. Namun, yang terjadi dalam Pilkada Kota Malang ini luar biasa dan benar-benar berbeda dengan daerah lain.

Namun demikian, kata Eddy yang juga Wali Kota Batu itu, apapun kondisi dan hasilnya, mungkin itu yang terbaik. Oleh karena itu, DPC PDIP Kota Malang mengucapkan selamat kepada pasangan Aji, semoga mampu mengemban amanah rakyat dengan baik.

Dan, lanjut Eddy, meski penghitungan suara dengan hitung cepat sudah diumumkan, pihaknya tetap akan menunggu hasil rekapitulasi suara manual dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang diumumkan pekan depan.

Senada dengan Eddy Rumpoko, Wali Kota Malang Peni Suparto yang juga menjadi tim sukses pasangan Dadi akan tetap menunggu hasil penghitungan manual KPU. Bahkan Peni tetap yakin jika istrinya akan memenangkan pilkada tersebut.

"Saya memang terkejut dengan hasil ini, apa yang saya lihat tidak seperti yang saya rasakan. Saya juga tidak ambil pusing dengan hasil yang dirilis oleh hitung cepat, kami akan tetap menunggu hasil penghitungan resmi dari KPU dan apapun nanti hasilnya, semua harus tetap berbesar hati, yang penting situasi dan kondisi keamanan di Kota Malang tetap aman," katanya, menandaskan.

    
Pendekatan "Wali Lima"
Dalam setiap perhelatan pilkada, setiap pasangan calon pasti akan melakukan pendekatan-pendekatan tertentu pada masyarakat untuk menarik simpati dan akhirnya meraup suara seperti yang diinginkan. Tak terkecuali enam pasangan calon yang bertarung dalam Pilkada Kota Malang juga beradu strategi dan pendekatan.

Berbeda dengan kelima pasangan calon mengandalkan program-rogram yang bagus dan memberikan bantuan serta perhatian bagi masyarakat kurang mampu, pasangan Aji justru melakukan pendekatan kepada masyarakat yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan, bahkan dilakukan oleh calon wali kota maupun wakil wali kota periode sebelumnya.

Pasangan Anton-Sutiaji menggelontorkan program pendekatan ziarah wali lima bagi seluruh warga di Kota Malang, bahkan target yang berangkat saat ini sebanyak 1.000 unit bus dengan kapasitas 60 orang setiap bus.

"Masyarakat kita ini sebagian besar penduduknya adalah muslim dan mereka pasti ingin ziarah ke wali lima. Karena kami memiliki dana, maka keinginan warga inilah yang kami tangkap dan akhirnya kami berangkatkan ziarah ke wali lima secara bergelombang serta kami beri uang saku sebesar Rp15 ribu/orang," ujar Anton.

Bahkan, Anton berjanji jika mememangkan pilkada, maka warga akan diberangkatkan kembali untuk ziarah ke Wali Songo dan seluruh tim suksesnya diberangkatkan umroh ke Tanah Suci.

Selain pendekatan ziarah ke wali lima dan dijanjikan ke Wali Songo, pasangan yang beretnis Tionghoa itu juga menggelontor masyarakat dengan paket sembako yang berisi lima kg beras, dua kg gula pasir dan 2 liter minyak goreng kemasan.

Pendekatan lain yang dilakukan pasangan Aji itu, ketika berkampanye secara terbuka dan mengerahkan massa juga memberikan berbagai macam hadiah. Di setiap lokasi kampanye disediakan hadiah sesuai nomor urutnya, yakni berupa sepeda motor sebanyak enam unit, lemari es 6 unit, HP 6 unit, televisi 6 unit serta ratusan hadiah hiburan lainnya.

Laboratorium Politik dan Rekayasa Kebijakan (LaPoRa) FISIP Universitas Brawijaya dalam sirvei pilkadanya juga menyebutkan jika pendekatan yang dilakukan pasangan Aji, terutama ziarah wali lima mampu mendongkrak suara secara signifikan.

"Pasangan ini tidak peduli dengan uang yang dikeluarkan, yang terpenting bagi mereka bisa mewujudkan keinginan masyarakat untuk ziarah ke Wali Lima yang secara otomatis nantinya juga berdampak pada perolehan suara. Dan, akhirnya terbukti," kata anggota peneliti LaPoRa FISIP Universitas Brawijaya (UB) Wawan Sobari.

Hitung cepat yang dirilis LSI, pasangan Moch Anton-Sutiaji meraup suara sebanyak 48,15 persen, Sri Rahayu-Priyatmoko Oetomo (SR-MK) 21,61 persen, Heri Puji Utami-Sofyan Edi Jarwoko (Dadi) 18,4 persen, Dwi Cahyono-Nur Uddin (Dwi-Uddin) 5,69 persen, Agus Dono-Arif HS (Doa) 3,97 persen, dan Achmad Mujais-Yunanr Mulya (Raja) 2,44 persen.

Sedangkan hasil hitung cepat yang dirilis Proximity disebutkan, pasangan Aji memperoleh suara 31,41 persen, SR-MK 27,83 persen, Dadi 27,36 persen, Dwi-Uddin 5,22 persen, Doa 4,16 persen, dan Raja 3,53 persen.

Dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 612.565 orang, angka partisipasi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi politiknya di tempat pemungutan suara (TPS) sebesar 62,81 persen atau turun dari Pilkada 2008 yang mencapai 70 persen.

Editor: Gatot Arifianto
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar