Yogyakarta, (ANTARA) - Sekitar 2.000 orang berdansa bersama-sama di Malioboro, tepatnya di depan Gedung Agung Yogyakarta, Minggu, untuk memeriahkan Festival United Line Dance yang baru pertama kali digelar.

"Ada sekitar 2.000 orang yang mengikuti acara ini karena selain dari peserta, ada banyak masyarakat umum yang juga berminat untuk mengikuti kegiatan ini," kata Pembina Festival United Line Dance (ULD) Tazbir di sela-sela acara yang digelar di Yogyakarta.

Menurut dia, kegiatan "line dance" tersebut merupakan aktivitas komunitas yang baik karena mampu meningkatkan kesehatan masyarakat sehingga perlu didukung oleh semua pihak untuk pengembangannya di masa yang akan datang.

Dalam kegiatan yang didominasi oleh kaum hawa tersebut, seluruh peserta pun mengenakan rompi dari kain lurik dengan motif yang beragam. Kegiatan di depan Gedung Agung itu pun diberi tema "Jogja Joged Lirik Lurik".

"Kegiatan ini juga akan sangat mendukung pengembangan pariwisata di Yogyakarta karena kegiatan ini sudah dimulai sejak 17 Februari. Banyak peserta dari luar yang datang ke sejumlah obyek wisata yang ada di Yogyakarta," kata Tazbir yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata DIY itu.

Mengenai pemilihan aksesoris rompi dari lurik, Tazbir menilai bahwa aksesoris tersebut merupakan penegasan bahwa lurik juga menjadi kekayaan budaya dari Yogyakarta selain batik dan perlu terus dipertahankan keberadaannya.

Sementara itu, Humas ULD DIY Wahyuningtyas mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh perwakilan-perwakilan ULD dari 14 provinsi di Indonesia, di antaranya dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Riau dan Sumatera Utara.    
"Peserta yang tercatat mengikuti kegiatan ini 1.600 orang. Kegiatan ini dilakukan untuk menandai satu tahun berdirinya United Line Dance. Seharusnya dilakukan tahun lalu, tetapi terjadi erupsi Merapi sehingga diundur menjadi tahun ini," katanya.

Ia menegaskan, tujuannya adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat serta mendukung kegiatan seni budaya dan pariwisata.

"Festival ini juga digunakan sebagai sarana memperkenalkan pariwisata di Yogyakarta. Sebelumnya, peserta melakukan kegiatan di Candi Prambanan dan juga Museum Ulen Sentalu," katanya.

Ia menambahkan, merasa cukup terkejut karena peminat "line dance" di Yogyakarta cukup besar. Biasanya, dansa dilakukan berpasangan tetapi "line dance" adalah dansa yang dilakukan seorang diri. (ant)

Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar